Thursday, May 18, 2006

Hikmah di balik kegagalan (klise ah..)

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pepatah ini kira-kira sama dengan keadaanku sekarang. Gara-gara menunjukkan selembar copy-an dokumen, akhirnya rencana keseluruhan bisa gagal total. Tetapi, mungkin juga, ini adalah jalan yang harus dihadapi, karena dari awal aku sudah ragu dan jalannya seperti terseok-seok, berkat kelihaian saja akhirnya bisa lolos. Andaikan lolos lagi dari keadaan ini, tentunya, kesulitan yang sesungguhnya akan menghadang, karena, ibarat mesin, sekelompok orang yang walaupun terdiri dari para ahli yang sebagian besar telah aku kenal, sebenarnya belum pernah aku coba dalam suatu misi sebesar ini, jadi, kalau pun kami yang memenangkan pertarungan ini maka bukannya menjadi berkah, malah akan jadi “bencana”.

Di balik kejadian ini, tentunya banyak hal-hal berharga yang dapat kami kumpulkan. Pertama, memperoleh pengalaman bersentuhan dengan proyek “plat merah” yang penuh intrik; Kedua, membuka cakrawala baru mengenai banyaknya peluang-peluang yang sama sekali tidak kami perhitungkan selama ini; ketiga, membuka silaturahim dengan banyak pihak; keempat, membuka tabir ilmu baru. Akhirnya, back to our main business.

Monday, April 24, 2006

Pertemuan di Hotel Ibis Tamarin

Hari Kamis malam Jumat aku ditelpon temanku Budi untuk ikut kumpul-kumpul terbatas di Hotel Ibis Tamarin di kawasan Kebon Sirih. Sehabis maghrib aku diampiri Budi, langsung menuju ke sana, kebetulan hujan lebat, jadi kami basah kuyup. Setelah sampai disana, telah hadir terlebih dahulu teman kami Harry Sarjono, Barkah dan Susi yang jadi tuan rumah karena sedang mengaudit hotel itu. Peserta terakhir yang datang dalam keadaan basah kuyup juga adalah Imenk.

Pembicaraan apalagi yang menarik kalau bukan seputar selebritis kampus. Kebetulan sore itu yang dibahas adalah topik seputar sepak terjang teman kami Bogat, Kotis dan Susi. Sepertinya seperti sebuah segi tiga. Memang dahulu kami semuanya berteman baik, tetapi memang mereka bertiga inilah yang kebetulan enak dijadikan topik pembicaraan.

Untung ada Barkah, kalau tidak, pembicaraan kita tentunya akan dingin-dingin saja, sama dengan keadaan di luar yang sedang turun hujan deras. Topik di seputar Barkah, yang sedang menduda, asyik juga untuk diomongkan. Pernah di milis disinggung-singgung masalah ‘teklek cemplung kalen, timbang golek alung balen’, tapi dia sepertinya tetap bersikukuh untuk cari lagi daripada kembali, jadinya teman-teman malas mendorong-dorong dia kembali ke yang lama.

Susi yang malam ini sendirian, juga tak lepas dari guyonan Barkah. “Kamu kok sama Kotis terus sih Sus, mbok sekali-sekali sama aku” kata Barkah. “Tapi, kasihan sama kamu, sudah dapat orang jelek (Kotis) dapat orang jelek lagi (aku) ha ha ha”. Tapi Susi tampaknya keberatan kalau Kotis dibilang-bilangin, “(jelek-jelek juga) diakan Bapaknya anak-anakku”. Wah untung deh Kotis dapat isteri Susi, walaupun berjauhan dibela-belain juga.

Susi menawari Barkah tumpangan untuk tidur, padahal Kotis (suaminya) sedang ada di luar kota. Serta merta aja Barkah bilang kalau dia numpang tidur di rumah Susi nanti takutnya Susi jadi hamil. Terus kata Susi, nggak apa-apa, wong tidurnya sama mbok ha ha ha. Terus, Barkahnya emoh tidur di sana.

Tentang Bogat, kami dapat klarifikasi dari Susi, bahwa dahulu dia dengan Bogat belum sampai tahap pacaran, baru PDKT aja. Pernah suatu ketika, katanya, Susi udah tahu Bogat biasanya datang jam segitu untuk sama-sama pergi kuliah. Susi nggak mau dijemput terus sama Bogat, akhirnya dia berjalan duluan. Eh bener, nggak lama kemudian, motornya Bogat datang mendekati dari arah belakang dreng dreng dreng dibarengi dengan sapaan khas Bogat, “monggo dik Susi…kita sama-sama ke kampus”. Kesan yang kami tangkap, Bogat itu benar-benar ngejar Susi. Sementara Susi menanggapi biasa aja.

Tentang Kotis juga jadi topik bahasan. Anakmu mirip siapa Sus, mirip kamu apa mirip bapaknya. “Mirip bapaknya” kata Susi. “Wah, sayang, rugi dong bandarnya” sahutku. Susi cuma ketawa saja.

Topik-topik lain juga jadi pembicaraan kami. Misalnya setting waktu milis adalah seperti keadaan kami selama 20-an tahun yang lalu ketika kami sama-sama menimba ilmu di Gedung Pusat UGM. Artinya begini, walaupun diantara kami sekarang sudah banyak yang sukses, baik di bidang akademis maupun di bidang bisnis, hubungan jalinan pertemanan diantara kita janganlah berubah. Kalau bisa tetap akrab seperti jaman perjuangan dahulu. Ini usul dari Harry Sarjono.

Akhirnya, pembicaraan kami yang hampir dua jam ini harus berakhir karena Susi mau pulang karena sudah ditunggu anak-anaknya. Kami pun menyudahi obrolan kami sambil sama-sama sepakat untuk menyukseskan pertemuan di rumah Agung Nur Fajar pada tanggal 30 April nanti.

Reuni dua tahunan, diusulkan sama teman-teman, agar dilaksanakan di Malang tempat den Mas Bogat berdomisili. Mungkin pertimbangannya agar lebih seru dan agak lain, gitu loh….

Sunday, February 26, 2006

Sukarno File

Membaca ‘Sukarno File’ karya Prof Antonie C.A. Dake sangatlah menarik. Ketertarikanku pertama kali tentunya dari ulasan-ulasan di berbagai media, kalau tidak salah pada waktu peluncurannya. Sebagaimana biasa, pada mulanya timbul pro kontra, yang semakin membuat buku itu menarik, setelah mulai membaca mulai dari halaman pertama sampai halaman terakhir, ternyata memang sangat menarik. Di Gramedia bahkan dimasukkan ke dalam kelompok ‘buku laris’.

Pengetahuanku tentang keterlibatan Sukarno dalam G30S/PKI memang tidak terlalu jelas, ternyata, menurut buku itu, keadaan demikian -- suasana samar dan tidak terlalu jelas -- memang sengaja dibuat, sebagai bentuk pemenuhan janji Suharto kepada Sukarno pada saat menerima Supersemar, yaitu menjaga nama baik Presiden (maksudnya Sukarno). Namun, fakta-fakta di buku itu dengan jelas dan gamblang menyebutkan dalang sesungguhnya dari gerakan itu adalah Sukarno sendiri yang dipicu oleh ketidaksenangannya kepada jendral-jendral Angkatan Darat yang menolak eksistensi Angkatan Kelima yang diusulkan PKI.

Berlainan dengan sikap Nasution yang keras untuk menyeret Sukarno ke Pengadilan, sikap Suharto justeru terlihat lunak kepada Sukarno karena disamping sudah bagian dari komitmennya pada saat menerima Supersemar, juga upaya jangka panjang untuk mendapatkan simpati dari keluarga Sukarno dan para pengikut setianya, sehingga ia dapat bertahan berkuasa hingga 32 tahun.

Kalau Suharto mau, tentunya Sukarno sudah diseret ke Pengadilan (Mahmilub, waktu itu). Keadaan ini, tentu saja menjadi hutang budi keluarga Sukarno kepada Suharto. Hal ini juga dapat menerangkan suatu keanehan yang terjadi pada masa Megawati berkuasa, yaitu dia tidak berani mengusut kejadian 27 Juli 1996, yang nota bene sangat merugikan PDI Perjuangan. Jawabannya tentu saja adalah peristiwa itu berhubungan dengan militer, yang ujung-ujungnya adalah Suharto. Jadi, sebagai balas budi kepada Suharto, Megawati ‘terpaksa’ menipu pendukung-pendukungnya sendiri dan membiarkan kasus-kasus yang menyangkut Suharto, lalu begitu saja bersama angin. Gone with the wind. Tentu saja hasilnya adalah win-win solution. Dasar orang Jawa!

Aku juga dapat mengerti mengapa Suharto tidak mau mengakui dan bergabung dengan pasukan Untung. Karena pangkatnya Untung cuma ‘Letkol’, kok berani-beraninya membunuhi para Jenderal. Dalam situasi yang cepat berubah, dia melihat kesempatan untuk membalikkan keadaan, dia tertantang untuk dapat menguasai lapangan -- sesuai dengan jati dirinya sebagai tentara --, insting seorang Suharto tentu mulai ‘berjalan’ apalagi setelah dia dapat dukungan penuh dari RPKAD yang dipimpin oleh Sarwo Edhi. Dengan kata lain, Suharto dihadapkan pada keadaan ‘tanpa pilihan’ yaitu untuk terus maju. Memang dia kenal baik dengan pelaku-pelaku kudeta, tetapi keadaan itu dia pakai sebagai suatu keuntungan pribadinya, bukan berarti menjadi lemah dan menyerah. Ibaratnya begini, kalau dia gabung dengan Untung, paling-paling dia cuma jadi wakilnya Untung, tetapi kalau dia melawan -- dan memang itu yang dia lakukan -- eh siapa tahu dia bisa jadi lebih tinggi dari Untung, yang akhirnya terbukti, malah jadi Presiden selama 32 tahun. Tentu Suharto sangat mensyukuri keputusannya pada saat itu.

Faktor pendukung lain keberhasilan Suharto pada waktu itu adalah lolosnya Nasution dari usaha pembunuhan. Nasution ini sangat disegani oleh kawan maupun lawan, sehingga dengan back-up penuh darinya, Suharto merasa sangat mantap untuk melangkah menantang Sukarno.

Sebagai kajian ilmiah, buku ini memang sangat kuat dasar pijakannnya. Jadi bagi orang-orang yang ingin menentangnya tentu saja ia harus ‘mengalahkan’ si penulis dari segi ilmiah dahulu.

Kiranya buku ini termasuk rujukan yang cukup penting untuk bangsa Indonesia dalam memandang kejadian-kejadian seputar tahun 1965 – 1967. Bravo untuk penulisnya.

Monday, February 20, 2006

Marketing Fee

Peristiwa yang cukup penting pada minggu yang lalu yaitu tepatnya pada hari Jumat tanggal 17 Februari 2006 adalah adanya panggilan telpon dari temanku A. Baru pertama kali ini, temanku yang satu ini menelepon, biasanya akulah yang menelepon atau terbatas pada pertukaran pesan singkat (sms).

Telpon dari temanku yang sudah menjabat sebagai petinggi di salah satu sekolah bisnis ini tentu saja bobotnya lumayan tinggi. Dalam kesempatan ini dia menawarkan kesempatan untuk mengaudit kantor temannya yang ada di Balikpapan. Dia bertanya, apakah aku mau, ya tentu saja mau dong. Lalu diberinya aku nama temannya dan sekalian no hapenya yang dapat aku hubungi.

Setelah Jumatan, aku telpon dia, untuk menindaklanjuti pembicaraan tadi. Ternyata, memang dia membutuhkan jasa auditor. Saat yang genting, bukan pada penyelesaian pekerjaannya, seperti yang disiratkan dari makna ‘audit’ yaitu proses pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan publik independen terhadap suatu badan usaha privat. Tetapi, justeru pada aroma ‘bagi-bagi rejeki’ untuk kepentingan orang-orang dalamnya.

Karena sudah sering berkecimpung untuk hal-hal yang beginian, aku sudah nggak kaget lagi. Secara umum, biaya yang dikeluarkan untuk hal-hal seperti ini dinamakan ‘marketing fee’. Memang namanya bagus dan sesuai dengan fungsinya yaitu menjembatani antara kepentingan kita sebagai penyedia jasa -- yang menginginkan jasanya laku -- dan pemakai jasa.

Ditilik dari orangnya, yang biasanya disebut marketer atau arranger ini, biasanya berasal dari luar, tetapi memiliki hubungan baik dengan pihak-pihak pengambil keputusan di dalam. Tetapi, bisa juga orang dalam sendiri, yang memanfaatkan situasi dan kesempatan yang dia ketahui.

Ditilik dari besarannya, ada bermacam-macam juga. Ada yang tidak mau menerima, ada yang diam saja saat ditawari (model begini biasanya sulit ditebak), ada yang puas dengan fee 10% atau 20% atau 30% bahkan 40%, ada juga yang baru puas kalau angkanya dibagi dua, tentu saja setelah mengeluarkan biaya-biaya langsung (kalau biaya langsungnya 10%, berarti marketing fee yang dia minta adalah 45%, tentu saja pajaknya dia yang menanggung).

Kembali kepada Bapak yang di Balikpapan tadi, akhirnya dia setuju dengan usulanku yang terakhir -- usulan maksimal yang bisa kami berikan. Sore itu juga kami kirim proposal kesana melalui fax.

Hari ini aku berkirim sms untuk menanyakan hasilnya. Katanya masih dalam proses, tetapi mudah-mudahan lancar.